My Poem " Sekalimat-Nafasku " part two
(Part One just the book on Tamara_Bleszynsky, Ahmad Dhani, Inneke Koesherawati and noor.magazine)never answered WHY? I did not know? So Confuse )
Audzubillahiminasyaithonierrojieem
Bismillahirrohmanierrohieem,
“Sekalimat Nafasku”
Oleh
Dadan Achdian
Bandung, 21 Februari 2014 Mitrasari foto 8:44
“ Jangan menangis juga, wahai buah hatiku. Sesungguhnya Alloh pembela bapakmu ini.”*
Min Hayatir Rasul:43
Sabarnya beliau tiada terbatas!
Kesabaran Muhammad kekasih Alloh adalah kesabaran yang tiada batasnya
Sebagaimana Cara berjalan di atas bumi dengan kalimatNya
Beliau adalah Sang Nabi akhir zaman
Dia adalah Al-Amin Al-Mustafa yang perilakunya adalah seperti Al-Qur’an dan berbicara berdasarkan kalimat-kalimatNya yang di firmankanNya* bukan dengan hawa nafsunya
Sungguh pada tahun itu adalah kesedihan baginda yang seolah kaum kuffar selalu menyakitinya
Padahal betapa ingin sekali beliau untuk mereka semua agar beriman kepada Alloh SWT saja dan percaya hanya kepada beliau
Padahal di tangannya di langit dan penjuru dunia warisan berupa pembendaharaan langit dan bumi berada dalam genggamannya
Padahal segala kunci rahasia dunia dan akhirat berada dalam genggamannya juga
Kesabarannya yang tiada batas adalah bentengnya untuk menghadapi kekejaman yang melampaui batas kaum kafir quraisy
Dan beliau hanya bertawakal kepadaNya saja dan bahwasannya janji Alloh adalah Al-Haq
Kesedihan beliau dalam memberikan kalung kekasihnya Khadijah binti Khuwailid ‘sebaik-baiknya wanita syurga’ adalah merupakan kesedihan yang amat mendalam untuk tebusan dalam dakwahnya yang suci
Fatimah adalah buah hati yang tersayang diantara kesayangan Muhammad saw yang begitu membela menyingkiran pasir-pasir yang disiramkan kaum laknatullah kafir ke atas kepala yang mulia Al- Amin
Semoga sholawat dan salam semoga tercurah keatas kekasihNya dan ahlul bait dan sahabat-sahabatnya yaitu Abu bakar Assidieq, Umar bin Khatab, Utsman bin Afan Dan juga adalah Ali bin Abuthalib ‘sang gerbang ilmu yang kotanya ilmu adalah Muhammad saw’*
“ Wahai Rasul (Muhammd)! Sampaikanlah (kepada manusia) apa yang sudah di turunkan kepadamu dari Tuhanmu! Sesungguhnya Alloh tidak menunjukki orang orang kafir.”*
*Surat Al-Maidah: 67 atau surat 5:67
Maha Benar Alloh dari segala firmaNya dan benar apa yang di katakan oleh Rasululloh dengan hadistnya bahwasannya umat Islam pada zaman akhir selalu bertengkar dan bersilat lidah dalam hal yang tidak penting. Semoga Alloh menjawab persoalan dan permaslahan yang mendasar dari kekisruhan umat Islam di Indonesia khususnya dan umumnya umat Islam di dunia.
Amin
Salam hormat,
Selamat bertugas!
PUISI UNTUK MENEMANI DIKALA ISTIRAHAT DALAM MENUNAIKAN TUGAS
Smoga berkenan dan suka
By Dadan Achdian
Juanda180 bdg 10 Des13 12.05 WIB
Wanita yang berseragam keindahan
Bicara artinya kesetiaan dalam kesetiakawanan dalam memenuhi arti sebuah tugas
Bicara dalam hati yang penuh dengan keberaniaan demi kemuliaan dikehidupan kini kehidupan nanti
Bicaralah dengan lantang nan gagahnya rupawan sang Dewi Kartika
Ketika dia berbicara masalah emansipasi dalam memimpin kaum lelaki,
Dia adalah ibu yang memimpin langkah demi langkah dalam mensejajarkan dengan kaum lelaki,
Dengan kerupawanan sang dewi cinta yang cantiknya menakjubkan sebuah arti ego kaum lelaki,
Dengan kelembutan mematahkan bukan dengan kekerasan akan tetapi dengan segala ketulusan
Dengannya anda berwibawa bergagahan bertampilan bak seorang malaikat cantik dengan sebuah senjata maut.
Adalah senyumanmu membawa ke alam keindahan keteduhan dan kebahagiaan hidup seorang hamba yang sahaya
Kawan sejati dikala diuji dalam kekalutan ketakutan kepedihan yang menindih jiwa-jiwa prajurit,
Antara tugas dan wajibnya seorang ibu yang membina memberi makan bayi dengan sejuta kelembutan sejuta kasih sayang,
Maka Tuhan manakah tempat kau kembali
Maka tempat manakah kau bersujud
Maka tanah manakah tempat beristirahat
Maka jangan tinggalkan yang lima
Maka akan selamatlah kalian dari sebuah mimpi buruk tanpa akhir
Maka lelaki manakah tempat berlabuh berdada bidangnya kesejukan dan kedamaian?
Biarlah biarlah biarlah semua akan berhenti dalam maknanya berumah tangga,
Yang tercerak dalam jutaan ketentraman sebuah bidak yang berlabuh pada samudra hidup.
Wahai An_nisa yang manis anda adalah manisnya mutiara keindahanku
Wahai An_nisa yang melembutkan jiwa yang mengangkara kepada kemarahanku
Wahai An_nisa yang membuat aku berteduh dikala sibuk dalam kesibukan tanpa henti,
Maka waktu akan berbicara dalam sebuah lingkaran perkenalan dalam salam
Dalamnya cintaku bagaikan palung yang akan membuatmu bahagia,
Tapi saya adalah lemah dalam menunaikan tugas
Tapi saya adalah pengecut dikala engkau marah padaku
Karena saya adalah pendiam yang berbicara dalam asam manisnya dunia,
Marilah bersindang* bersanding bersenandung suara merdunya kehidupan dunia sementara,
Akan aku ajak kepada keabadian yang membahagiakan,
Akan aku ajak sajak sejuknya pohon yang bercabang berbicara daunnya yang kehijauan,
Bismillah, saya akan melangkahkan kaki kepada anda Insya Alloh.
Suatu hari “ in the past..”
Di Cafe di Bukit Mitrasari Bandung adalah tempat indah dalam berbagi kasih menumpahkan rasa rindu
“Betapa Gue slalu dikalahkan oleh keegoisan seorang wanita durjana”
Betapa syetan dan bala tentaranya menyuruh agar kita tidak bersua. Why?
Betapa susahnya dalam pengembaraan cinta menemukan cinta sebenarnya
Barangkali ada wadah dalam balutan cantiknya wajahmu tamara “my Bleszynski…!
Senang hati yang berkarat pabila kamu bersihkan dalam sebuah ucap ” hai..”
Bukan kata cinta kata mesra bukan kata sayang
Tapi boleh kupinta sebuah do’a untukku
Betapa bodohnya bila engkau meminta tapi tak kamu beri sebuah keteduhan hati kelapangan kalbu,
Do’a dari siapakah yang akan dikabulkan?, entahlah,
Do’amu adalah sebuah harapan kenyataan dalam bertemu pandang berkenal bertegur sapa bercakap
Bila jarak tak terhirau
Bila hati tak terjauh
Bila kita kan berjua
Bilakah itu?
“Pasti dan pastikan dalam keraguanmu kegalauanku
Punahlah maka sudah.”
Cinta yang manakah ku kan berlabuh
Cintamu adalah bagiku hanya sayang selayang pandang semerbak sebuah keharuman bagiku engkau begitu mengagumanku sehingga..,
Sayang begitu indah seindah paras wajahmu
Sayang aku bukanlah seperti yang kau kira
Sayang seribu satu sayang hanya satu do’a
Dalam membersihkan hati yang berkarat
Dalamnya cinta tak bertepi
Dalam hatimu siapa yang tahu
Dalam hatiku aku berharap
Siapa tahu esok kita bertemu
Di Bogor, di Bali, ke Bandung jarak tak tertandingi
Bilakah kita bersua dalam pandanganku
Hati bicara hati mengerti hati merasakan
Karena ajaibnya hati..
Wahai An_nisa bicaralah dari hatiku Dan hatiku
Dan aku akan mengerti!
Seluruh dunia ku kan jejaki
Entah anda yang ku eksplorasi*
Lamunanku berada disana
Lenyap sudah penderitaanku?
Ampun bila tak sudi aku tak mengerti betapa cantik nian engkau!
Enough is enough..!
Ketika itu pada suatu masa, dikala senja dibatu karang yang terbentur dengan air. Air aku adalah umpama air yang tak pernah berhenti. Dan tak akan pernah berhenti lak hujan yang terus menerus menghantam, atau lak air hujan curah rahmatNya yang tiada henti menahan amarahku dengan kesabaranku yang tak kenal hening. Beratnya cobaan yang berhenti atau tidak sama kali tidak. Dan ternyata cinta itu ada. Dan ternyata cinta kadang tiada lak dian yang terus menyala. Dian pun bukanlah api yang hanya padam walau satu tiupan saja. Bukan aku saja bukan? Dan bilakah cerita menyeramkan itu?
November 2004 di suatu tempat yang berkawah
Malam penuh bisu ku bergelut dengan antara kematian Dan kenyataan yang begitu sangat-sangat Dan sekali lagi amat menyeramkan. Karena pisau itu begitu menghujani kalbuku. Dengan satu? Atau berkali kalikah? Atau dengan kalimat perumpamakan apakah sebegitu hebatnya ego seorang wanita hingga aku menjadi anjing hitam syetan laknatulloh? Wah, sebegitu hebatnyakah iblis hingga harus bersujud! Persetan atau kata-kata makian apakah yang pantas bagimu. Hey mahluk terkutuk! Berlarilah hingga engkau menjadi bangkai berjalan dengan bebauan yang meneringak kedalam hidung bau lak lerungan yang pekat! Bah cukup! sekali lagi enough cukup sudah penderitaanku! hanya sebilah pisau ketakutan menghujani kulit tubuhku padahal tidak, hanya kaca pecah di meja bundar. Kamu seakan akan berkata dalam senyapnya kesadaran yang hilang. Menciutkan nyaliku yang seakan mulai padam dengan kemarahanmu kepusinganmu dan lain sebagainya. Menumpahkan asamu yang berat. Dan tapi mengapa bebanmu kamu arahkan kepadaku seolah hanya aku saja kesalahan yang memang ku mengakui sebagaimana manusia tempatnya kesalahan. Tapi mengapa kepadaku saja yang memang aku adalah tempat kelupaan sebagaimana manusia adalah tempatnya lupa. Sakitnya seakan nadi yang terus membayangiku menghantuiku dan seterusnya.
Esok harinya
Hari kemarin seakan jahannam telah memupus semua janjimu yang kita ikat dalam janji yang kokoh kuat sebagaimana tali temali yang mengikat leher atau apalah. Karena sekarang aku sadar betapa beratnya beban yang dipinggulkanNya padaku sebagai khalifah yang bertanggung jawab dalam sebuah wacana cinta yang ditulis dalam ikatan mahligai sebagaimana sebuah kapal induk yang aku adalah pimpinannya kaptennya atau apalah arti sebuah nahkoda cinta dalam pengembaraan sesaat di dunia. Begitu hebatnya Sang Pemberi Takdir memberiku arti sebuah hikmah sebuah ilmu sebuah namanya hidayah dalam kepahitan itu adalah obat hati untuk tetap mengerti dan tetap tegar dan tetap berdiri bersama Engkau wahai Dzat yang Maha Penyayang dan Yang Maha Pengasih. Terima kasih Engkau bimbing dalam sebuah drama cinta menggetarkan. “Engkau adalah Dzat Yang Maha Penjaga Keimanan Ya Mukminun! Hamba terima ini suatu takdir dari Engkau sebagai suatu sentuhan kasihMu yang tak terkira agar hamba menjadi seorang pemberani di kancah dunia yang mudah-mudahan menjadi milikku sekarang atau nanti dan seterusnya!”
Setetes hikmah dalam tanah yang bertuan
Tuanku Diponogoro dan Cut Nyak Dhien adalah bergelut dalam ketenangan yang amat sangat menyayangiku, pahlawan Indonesiaku!
Dan biarlah beliau dalam ada dan ketiadaannya dia lah dari tempat yang mempunyai batas dinding pemisah semoga mereka-mereka bersama saat ini sedang tersenyuman setelah melewatkan hari-hari peristirahatannya sebagaikan rembulan indah atau cahaya yang menyinari kuburan-kuburan gelap dihari esok atau nanti yang mudah-mudahan bias mencerahkan dalam ketenangan atau apapun yang hanya Illahi yang hanya mereka saja merasakannya..
“Sudah kubilang jangan begitu Dan jangan begitu.., Selalu ingat kepada Yang Maha Mengingatkan agar hati-hati dalam berjalan melangkah dalam kepastian bahwasannya suatu hari kita akan menyesal dan itu pasti. Hari Kepastian itu adalah hari dinanti sebagaimana seorang pengembara lusuh di dalamnya ada sebuah keindahan yang tak terbayangkan dan tak terindahkan bayangan fikiran manusia yang berfikir positif dan seolah mereka penghuniNya atau adalah seumpama apabila mereka merindukanmu atau ingin sekali membahagiakanmu atau sebagaimana dayang-dayang pengiring tamu yang sangat siap sekali menerima kedatanganmu atau pasukan yang berbaris tegap untuk menghormatimu yang memang adalah sebuah episode yang sangat amat terbaharukan sehingga lupa dengan kemarin yang hanya beberapa hari saja kebahagiannya dan atau kepayahannya dunia yang fana itu. “Selamat datang wahai penghuni syurga!” adalah untukmu wahai pengendara pengembara pejuangKu wahai para kekasihku yang dicintaiKu yang menyayangimu selamanya karena hari yang dijanjikanNya sudahlah tiba maka berbaringlah di peraduan untuk beristirahat dengan senyuman yang mengembang dari bibirmu hingga engkau akan dibangunkan dengan rasa tulus dibangunkan dengan lemah lembut sebagaimana bayi yang dengan tulus dan senyuman kasih sayangnya keikhlasan seorang Ibu membangunkan dengan tiada khawatir sehingga hari bagaikan sekejap saja. Dan kamulah penghuni singgasana Tuhan kamulah milikNya diantara ribuan atau entahlah banyaknya bidadari-bidadari ataukah bidadara-bidadara yang senyumannya terindah dari yang terindah didunia yang engkau bayangkan cantik ataukah tampan luar dalam inner beauty-nya pesolek wanita atau perempuan top modelnya dunia yang seakan menyinari dunia hingga silaulah para penghuninya mereka. Aneka kelezatan makanan-makanan tersaji menghampar menghampiri perut yang lapar dan haus. Tidak boleh dan larangan adalah tidak ada dalam kamusnya bahasa syurga. Dan semua bagaikan luasnya dunia seisinya atau yang lebih dari itu adalah milikmu juga. Dikawinkan juga olehNya dengan bidadari yang bermata jeli kulit mulus tubuh semampainya dan tubuh sintalnya menggoda setiap insan manusia. Dan ketahuilah bahwa masih ada kenikmatan lainnya yang sukar dibayangkan dan sekali lagi engkau boleh menggaulinya wanita yang lebih dari bidadari yaitu wanita sholehah dengan sepuas-puasnya sehingga semua kepedihan dunia dilupakan semua sudah. Dan semua itu adalah untuk khusus kekasih-kekasihNya saja”*
Cuaca cerah indah tapi dibalik ujung negeri entah. pada hari di Desember yang mencekam.
Ketika itu hari sudah suntuk sehingga enggan sudah pagi hari yang kataku cerah dikala itu. Saya tersentak kaget begitu air yang terdalampun membuahkan relungan pusan air kemarahanNya sebagaikan kemarahanku juga hingga menghantam Atjeh Darusalaam negeri yang akan selamat nanti. Dikala aku menginjakan kaki ke istana negara katanya ataukah ke cimanakah lagi yang hingga aku melihat suatu bayangan menakutkan ataukah bayangkannya yang garisnya hitam itu memalingkan yang begitu realistis.
Aku hingga lupa dengan penderitaan itu sehingga terkesima dengan rupawan memerah pipimu itu. Hai yang gadis atau kah jandamu hingga aku tak pedulikan lagi merahnya delimaya bibirnya yang bagaikan dewi yang katanya katanya suka penghayatannya Yah! sudahlah aku cinta padamu lagi kataku. Dan bisukah aku dan bisukah hatimu dan bisukah mukanya. Dan dan dan memang aku mengakuinya hingga mimpi itu sudah terwujud atau belumkah terserah yang di Atas sana saja Yang Serba Maha yang mengatasi permasalahanku dan keinginanku pada saat malam itu atau masa kapankah. Masa itu massa super berat bebanku yang menetukan kapan atau waktu atau time!
Tah, kini sekarang saatnya adalah waktunya untuk bertemumuka bertemu wajah bertemu tangan bertemu semuanyalah. Bertemu pandang bertemu cinta berkenan bertemu puisiku dan dengan sekalimat puisiku akan menjadi banjir banjir kenyatan karena aku pandai katanya? Super pandai! pandai cukup. Super begitu ungkapan berlebihan untuk kewarasan dan hanya dalam hatiku.
Dan begitu cerdas begitu sempurna kata-kata puisi karena Dan memang begitu Dan memang begitu Dan memang kenyataannya aku memang ku akui tidak super jenius. Dalam mengalahkan sekeliling dunia begitu nyata dalam rupa begitu nyata hanya dalam genggamanNy saja sebagaimana di kehendakiNya saja, “emang Telkom?” Dan memang iya. Emang paling hapy ending ceritanya, lalu kita akan bertemu dan dipertemukan karena Alloh SWT adalah yang Maha Sutradara Dan Yang Maha Menepati Janji. KehendakNya adalah bukan kehendaku karena saya hanya sahaya dan bukan penentangNya!
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
Conversationprism {gambar/diagram}
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar